Event & Kegiatan

Belajar Cagar Budaya dan Bergembira Bersama Bioling BPCB DIY


07 May 2017 Di Posting Oleh Admin

“Mas Wira ini usianya lima puluh tahun lebih. Walau pun begitu, ia bukan termasuk cagar budaya lho ya,” seloroh Trinil, disambut tawa riuh rendah pelajar SMA BOPKRI 2 Yogyakarta yang mengikuti kegiatan sosialisasi cagar budaya Bioskop Keliling (Bioling) yang digelar Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istiewa Yogyakarta pada Jum’at malam (28/4) di Pendapa Museum Kompleks Candi Prambanan. Malam itu, selain memutar beberapa film tentang cagar budaya, Tim Bioskop Keliling BPCB DIY juga mengajak “Sepasang Pelawak” dari Angkringan TVRI Yogyakarta, yakni Wira dan Trinil untuk tampil menghibur pelajar.

Sosialisasi cagar budaya bioskop keliling diawali dengan penyampaian materi tentang cagar budaya oleh narasumber BPCB DIY, Yoses Tanzaq. Ia memaparkan aspek historis dan arkeologis kompleks Candi Prambanan kepada pelajar SMA BOPKRI 2 Yogyakarta. Pada sesi tersebut Yoses memberikan kesempatan kepada pelajar untuk mengajukan pertanyaan terkait kompleks Candi Prambanan. “Pak Yoses, dulu saat kecil saya pernah mendengar cerita, katanya kompleks Candi Prambanan itu jumlahnya seribu ya?” tanya seorang pelajar. “Sebenarnya jumlah keseluruhan kompleks Candi Prambanan ada dua ratus empat puluh, yang terdiri dari enam belas candi yang berada di halaman utama, dan dua ratus dua puluh empat candi perwara yang disusun empat deret di halaman kedua. Jadi jumlahnya tidak ada seribu candi. Itu hanya cerita rakyat, yang memang sudah disampaikan turun temurun dari dulu,” jawab Yoses, yang juga sebagai arkeolog di Unit Candi Prambanan itu.

Selain menyampaikan pengetahuan tentang kompleks Candi Prambanan kepada pelajar, Yoses juga memberikan beberapa buah buku terbitan BPCB DIY kepada SMA BOPKRI 2 Yogyakarta untuk menambah koleksi buku perpustakaan sekolah. Buku-buku tersebut diterima langsung oleh kepala SMA BOPKRI 2 Yogyakarta, Sri Sulastri.

Untuk menambah pemahaman pelajar mengenai kompleks Candi Prambanan, seusai pemaparan materi oleh narasumber, kemudian dilanjutkan pemutaran film berjudul Dharma Siwa Grha. Film itu bercerita tentang sejarah pendirian kompleks Candi Prambanan yang dikemas dalam bentuk animasi. Selain film itu, ada dua film lainnya yang disuguhkan kepada pelajar, yaitu Profil BPCB DIY, berisi tentang sejarah dan ketugasan Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Film ketiga yakni Siwa Plateau, yang mengulik tentang beragam candi tinggalan peradaban Mataram Kuno yang tersebar di perbukitan daerah Prambanan-DIY bagian selatan, atau yang dikenal dengan nama “Siwa Plateau”.

Raut muka pelajar tampak menegang, setelah menyimak pemaparan materi dari narasumber dan menyaksikan beberapa film cagar budaya dengan serius. Oleh karena itu, Tim Bioskop Keliling BPCB DIY memanggil Wira dan Trinil, Duo Pelawak Angkringan TVRI Yogyakarta untuk mengendurkan kembali wajah mereka. Wira dan Trinil sukses mengocok perut para pelajar. “Dik Trinil, kamu ini sebagai pemuda harus cinta kepada cagar budaya,” kata Wira. “Iya mas, aku mencintaimu, kamu sudah aku anggap sebagai cagar budaya sekarang. Usiamu sudah lima puluh tahun lebih, ditambah lagi kamu itu langka, unik, dan bersejarah,” sahut Trinil, disambut tawa para pelajar. Grrrrrrr….

Wira dan Trinil juga mengadakan kuis bagi pelajar. Keduanya melontarkan beberapa pertanyaan seputar materi yang disampaikan oleh narasumber BPCB DIY dan substansi film cagar budaya yang telah diputar. Para pelajar begitu bersemangat mengikuti kuis. Belum rampung pertanyaan dibacakan oleh Wira dan Trinil, mereka sudah beradu cepat mengacungkan jari dan saling berebut menjawab pertanyaan. Bagi pelajar yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar, mendapat hadiah buku terbitan BPCB DIY.

Tidak lupa, Wira dan Trinil mengajak pelajar SMA BOPKRI 2 Yogyakarta untuk ikut berperan serta  melestarikan cagar budaya. Keduanya merangkul pelajar untuk memanfaatkan media sosial yang ada untuk menyebarluaskan informasi cagar budaya kepada sesama. “Sekarang ini teknologi sudah maju, kita bisa memanfaatkan media sosial untuk mempublikasikan cagar budaya kepada masyarakat. Kita bisa memotret cagar budaya, kemudian membubuhkan keterangan yang menarik tentangnya. Walhasil, setelah melihat postingan kalian pasti masyarakat akan tertarik untuk melindungi, mengunjungi, dan melestarikan cagar budaya,” kata Wira, yang kemudian disetujui oleh Trinil dan para pelajar. (Ferry A.)



Back to top