Info Perlindungan

Pendaftaran Cagar Budaya   Potensi sumberdaya budaya DIY sangat kaya dan beragam, yang berdasakan jenisnya terdiri dari budaya material dan non material. Budaya material berupa bangunan, alat dan artefak lain yang dibuat manusia. Sedangkan budaya non material berupa  cerita rakyat, seni pertunjukan dan sebagainya. BPCB Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai tugas pokok dan fungsi dalam pelestarian cagar budaya di wilayah Daerah Istimewa ...

Selengkapnya ›

Kegiatan Ekskavasi Penyelamatan Candi Abang


Friday, 07 April 2017 Di Posting Oleh Admin

Kegiatan ekskavasi penyelamatan Situs Candi Abang yang berada di  Dusun Blambangan, Desa Jogotirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta telah selesai dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta selama sepuluh hari, mulai tanggal 18 – 27 Maret 2017. Kegiatan ini merupakan bagian program kerja Unit Kerja Penyelamatan dan Pengamanan – BPCB DIY pada tahun 2017.

Kegiatan ekskavasi penyelamatan Candi Abang dilakukan oleh tim ekskavasi Unit Kerja Penyelamatan dan Pengamanan – BPCB DIY bekerja sama dengan dosen dan mahasiswa dari Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada. Masyarakat lokal juga ikut terlibat dalam kegiatan ini sebagai tenaga dalam penggalian kotak ekskavasi. Kegiatan ini diketuai oleh Kepala Unit Kerja Penyelamatan dan Pengamanan – BPCB DIY, Dendi Eka Hartanto, dan selaku penanggung jawab yakni Kepala Seksi Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan BPCB DIY, Wahyu Astuti.

Berdasarkan penuturan arkeolog tim ekskavasi BPCB DIY, Yudhistiro Tri Nugroho, tujuan dilakukannya kegiatan ekskavasi adalah untuk menyelamatkan data-data arkeologi yang berkaitan dengan Situs Candi Abang guna dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan terkait upaya penyelamatan dan pelestariannya. “Kegiatan ekskavasi penyelamatan dilakukan guna mengungkapkan data-data arkeologis terbaru berkaitan dengan Situs Candi Abang, seperti sebaran data arkeologis, bentuk denah, ukuran keluasan candi, dan latar belakang keagamaannya. Data yang terkumpul dari hasil ekskavasi itulah yang nantinya diharapkan dapat dijadikan acuan untuk mengetahui gambaran rencana pelestarian bagi situs tersebut di masa mendatang,” ungkapnya.  

Dari kegiatan ekskavasi diperoleh sejumlah temuan antara lain: 1) Stuktur bangunan, yakni berupa struktur bata yang diduga sebagai bagian dari sudut lantai batur bangunan Candi Abang; 2) Temuan lepas (artefaktual) berupa beberapa fragmen gerabah, satu buah uang logam VOC, dan beberapa temuan lepas bata dan batu andesit yang membentuk bagian profil candi.

Berdasarkan data-data arkeologi yang ditemukan dapat disimpulkan bahwa di Situs Candi Abang terdapat satu bangunan candi tunggal yang sekaligus sebagai bangunan utama. Bangunan ini terbuat dari susunan bata berukuran 40 x 20 x 6 cm; 40 x 20 x 8 cm; dan 36 x 22  7 cm. Selain bata, di lokasi ekskavasi juga ditemukan struktur batu putih (tufa) dan beberapa batu andesit berbentuk profil yang diduga bagian dari bangunan Candi Abang.

Sementara itu dilihat dari temuan lainnya berupa sudut lantai batur hasil ekskavasi pada sisi tenggara dan sisi timur, diperkirakan bahwa Candi Abang berdenah persegi berukuran 46, 9 x 46, 9 m, sedangkan secara vertikal ke atas bangunan Candi Abang belum dapat diketahui bentuk keseluruhannya.

Di samping merujuk pada hasil temuan yang didapat dari hasil ekskavasi, untuk mendapatkan keterangan mengenai Candi Abang juga dilakukan dengan melihat laporan ROD (Rapporten van de Oudheidkundige Dienst) tahun 1905. Dalam laporan itu disebutkan bahwa di Situs Candi Abang pernah ditemukan sebuah lingga dan arca Buddha (Bosch, 1915: 43).

Sumber lain yang memberikan informasi terkait Candi Abang adalah temuan prasasti pendek yang pernah ditemukan di Situs Candi Abang pada 1932 (Sutherheim, 1932). Pada baris pertama dalam prasasti tersebut bertuliskan paki hum jah, diperkirakan mengacu pada pemujaan salah satu dewa-dewa dalam panteon agama Buddha. Hasil transkripsi dan interpretasi Rita Margareta terhadap prasasti tersebut menujukkan bahwa prasasti itu berisi pertanggalan dengan angka tahun 794 Saka atau 872 Masehi.

Berdasarkan keterangan yang tertulis dalam ROD dan prasasti pendek, dapat ditarik kesimpulan bahwa Candi Abang diduga berlatar belakang agama Buddha dan berasal dari abad 9 M. Namun, interpretasi tersebut perlu dikaji lebih lanjut mengingat data-data yang terkait Candi Abang masih sangat minim. Oleh karena itu, masih perlu dilakukan lagi upaya pencarian data-data mengenai Candi Abang agar dapat mengungkap fakta Candi Abang secara akurat dan komprehensif.

Selama pelaksanaan kegiatan ekskavasi penyelamatan, Situs Candi Abang masih bisa dikunjungi oleh masyarakat. Justru kegiatan itu dimanfaatkan oleh BPCB DIY untuk memberikan pembelajaran kepada masyarakat tentang arti penting pelestarian cagar budaya. “Selama proses ekskavasi masyarakat boleh masuk ke lokasi situs. Harapannya kegiatan tersebut bisa mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pelestarian cagar budaya, sekaligus memberikan informasi secara langsung mengenai Situs Candi Abang,” kata Yudhistiro.(Ferry A.)

...



Penanganan Kasus Tindak Pidana Bangunan Cagar Budaya SMA 17 1 Yogyakarta


Sunday, 02 April 2017 Di Posting Oleh Admin

Jumpa pers tanggal 16 September 2014

Berdasarkan pasal 1 angka 1 Undang-undang RI No. 10 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, bahwa Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melaluI proses penetapan. Oleh karena itu, keberadaan cagar budaya harus dilakukan upaya pelestariannya.            

Pelestarian cagar budaya mencakup upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan. Di dalam Pasal 1 angka 22 disebutkan bahwa Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan cagar budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan dan memanfaatkannya.

SMA 17 1 Yogyakarta di Jl. Tentara Pelajar 24 Yogyakarta adalah Bangunan Cagar Budaya, yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, No. 210/KEP/2010, No. Urut 39. Keberadaan  bangunan Cagar Budaya  tersebut  dilindungi dengan peraturan perundang-undangan yaitu Undang-undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Peraturan Daerah No. 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya.  Keberadaan bangunan cagar budaya SMA 17 1 mengalami perusakan pada tanggal 11 Mei 2013 yang dilakukan  oleh beberapa orang  yang mengaku diperintah oleh pemilik. Atas dasar perusakan itu maka dilakukan upaya penegakan hukum atas kasus tersebut dengan  membentuk tim penegakan hukum dari instansi Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta (BPCB), Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Polda DIY.

Proses penyidikan dilakukan oleh PPNS BPCB Yogyakarta berkoordinasi dengan Korwas PPNS Polda DIY atas dasar Laporan Kejadian No. LK/02/V/PPNS-BPCB/2013 tanggal 22 Mei 2013. Di dalam proses penyidikan yang dilakukan telah memeriksa 12 (dua belas) Saksi, 3 (tiga) Saksi Ahli. Berdasarkan proses itu dapat diketahui bahwa:

1)  Telah terjadi kasus Perusakan Bangunan Cagar Budaya SMA 17 1 Yogyakarta sebagaimana diatur di dalam Pasal 105 Jo Pasal 66 (1) dan / atau Pasal 113 (3) Undang-undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

2)  Perusakan bangunan  cagar   budaya   SMA   17 1 Yogyakarta dengan unsur kesengajaan telah terbukti dilakukan oleh YT. Kegiatan tersebut dilakukan dengan alasan atas permintaan seseorang yang mengaku sebagai pemilik yaitu MZ. Sasaran pembongkaran yaitu (1) Bagian atap (kerpus, genteng, rangka atap kuda-kuda, blandar, usuk, reng); (2) Plafon; (3) Kusen Jendela, Kusen pintu, dan daun jendela-pintu; (4) sebagian dinding.

3)     Kejadian yang pembongkaran yang berakibat rusaknya bangunan cagar budaya SMA 17 1 Yogyakarta tersebut "merupakan tindakan merusak atas dasar kesengajaan".

4)  Tindakan yang dilakukan nyata-nyata melanggar pasal 105 Jo pasal 66 (1) dan / atau pasal 113 (3) UURI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Pasal 105 : "Setiap orang yang dengan sengaja merusak cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam pasal 66 (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.5.000.000.000.00 (lima miliar rupiah).

 

Pasal 66 (1) "Setiap orang dilarang merusak cagar budaya, baik seluruh, maupun bagian-bagiannya, dari kesatuan, kelompok, dan/atau dari letak asal."

 

Pasal 113 (3)"Tindak yang dilakukan orang yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana, dipidana dengan ditambah 1/3 (sepertiga) dari pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 101 sampai dengan pasal 112."

 

 Proses penyidikan telah selesai dan BAP telah lengkap (P 21) dan pada tanggal   9 September 2014 PPNS BPCB Yogyakarta bersama Korwas PPNS Polda DIY telah menyerahkan berkas bersama TSK (tersangka) dan BB (barang bukti) ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) di Kejati DIY dan diteruskan ke Kejari Yogyakarta untuk dapat disidangkan ke Pengadilan Negeri Yogyakarta.

Atas peran pemangku kepentingan (Pemda DIY, BPCB Yogyakarta cagar, Polda DIY) dan seluruh stake holder yang peduli terhadap pelestarian cagar budaya kasus di SMA 17 1 Yogyakarta dapat disidangkan dan menjadi bahan refleksi akan pentingnya menjaga eksistensi cagar budaya. Oleh karena itu, di dalam proses persidangan yang dilakukan tersebut perlunya semua pihak terkait (stake holder) dan masyarakat luas untuk mengawal sehingga proses tersebut berjalan sebagaimana mestinya.

      Yogyakarta, 16 September 2014

...



Struktur Bangunan Candi


Monday, 19 May 2014 Di Posting Oleh Admin

Telah ditemukan struktur bangunan candi di Kampus Universitas Islam Indonesia (UII), Jalan Kaliurang  KM 14, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 11 Desember 2009. Sampai saat ini temuan candi tersebut masih dalam proses identifikasi oleh petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP 3) Yogyakarta.
...



Deskripsi Temuan - Batu Kemuncak


Monday, 19 May 2014 Di Posting Oleh Admin

Benda berbentuk bulat, terbuat dari batu andesit dengan ukuran tinggi 58 cm dan diameter 40 cm. Informasi proses penemuan diperoleh dari Ir. H.R. Pranoto Hamijoyo yang menyebutkan bahwa benda ditemukan sekitar tahun 1980, yaitu saat menggali tanah untuk tempat sampah di halaman rumah kos di kampung Jetis. Pada saat tanah yang digali mencapai kedalaman 1 (satu) meter, cangkul digunakan oleh beliau berdua mengenai benda keras, karena rasa penasaran penggalian dilanjutkan dan menemukan sebuah batu berornamen yang berbentuk bagus. Karena ketidaktahuan dan ketertarikan terhadap benda temuan tersebut, kemudian oleh penemu, benda dibawa pulang ke rumahnya di Keparakan Lor MG 4 No. 81 Yogyakarta dan dijadikan sebagai hiasan taman di halaman rumah. Pada tanggal 12 Maret 2009 diserahkan kepada kantor BP3 Yogyakarta. Berdasarkan hasil tim analisis, disimpulkan bahwa kemuncak tersebut dilihat dari ornamennya diperkirakan dari masa Klasik Hindu Buddha, sekitar abad IX, memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, sehingga dapat dikategorikan sebagai Benda Cagar Budaya. Dan telah menerima imbalan dan piagam penghargaan dari BP3 Yogyakarta. 
...



Deskripsi Temuan - Menhir


Monday, 19 May 2014 Di Posting Oleh Admin

Benda cagar budaya berbentuk menhir ini terbuat dari bahan batu putih, dan berasal dari Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Benda dengan nomor inventaris D. 80a merupakan benda sitaan kasus pencurian tahun 2005 dari Desa Karangsari, Playen, Gunungkidul. Sedangkan benda dengan nomor iventaris D. 80 merupakan barang bukti kasus pencurian tahun 2007 dari situs Penampungan Bleberan, Playen, Gunungkidul. 
...




<< First | < Prev | 1 | Next > | Last >>


Back to top