Video

20 April 2017 Di Posting Oleh Admin

Sosialisasi Cagar Budaya BPCB DIY dengan Komunitas Malam Museum

Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta berkomitmen untuk terus menumbuhkan generasi muda yang peduli terhadap warisan budaya bangsa, khususnya cagar budaya. Untuk merealisasikannya, berbagai program internalisasi cagar budaya telah dilakukan. Salah satunya yakni dengan penyuluhan cagar budaya bagi masyarakat, termasuk pelajar.

Pada 9 April 2017, Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan Komunitas Malam Museum menggelar sosialisasi cagar budaya bagi mahasiswa dan pelajar bertajuk Aksi Pemuda Untuk Pelestarian Cagar Budaya di Museum Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta dan Candi Sambisari.

Sosialisasi cagar budaya dilaksanakan dalam dua sesi. Sesi pertama diisi dengan pemaparan materi tentang pelestarian cagar budaya oleh dua orang narasumber dari Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta. Pembicara pertama, Kepala Seksi Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY, Wahyu Astuti, membahas tentang Perawatan Cagar Budaya. Kemudian materi kedua Aspek Pemanfaatan dan Pembelajaran Cagar Budaya dikupas oleh Kepala Unit Kerja Dokumentasi dan Publikasi, Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY, Ign. Eka Hadiyanta.

Seusai pemaparan materi selesai, kemudian para peserta sosialisasi melakukan praktik konservasi batu di Candi Sambisari yang berada di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, DIY. Dalam melakukan praktik konservasi, para peserta didampingi oleh R. Wikanto Harimurti, Kepala Sub Unit Kerja Konservasi, Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY.

Sosialisasi ditutup dengan kegiatan pembuatan poster bertema pelestarian  cagar budaya oleh para peserta. Dari kreatifitas peserta, muncul poster-poster berisi ajakan kepada pemuda untuk berpartisipasi melestarikan cagar budaya. Semua poster-poster itu pada intinya sama, dan dapat disarikan menjadi satu kalimat yang wajib diingat generasi muda, yakni Yang Muda, yang Peduli Cagar Budaya. (Ferry A.)



05 April 2017 Di Posting Oleh Admin

7 Tata Nilai Budaya Kerja BPCB DIY



15 April 2015 Di Posting Oleh Admin

Tinggalan Pusaka Kotagede Yogyakarta Part 3

Sejarah Kotagede bermula dari Ki Gede Pemanahan yang membuka sebuah hutan bernama Alas Mentaok. Hutan itu diperoleh dari Raja Pajang sebagai hadiah atas keberhasilannya mengalahkan musuh kerajaan. Selanjutnya Ki Gede Pemanahan beserta keluarga dan pengikutnya membuka hutan tersebut untuk dijadikan sebuah pemukiman. Lambat laun pemukiman yang semula hanya berupa desa kecil kemudian menjelma menjadi kota kerajaan yang ramai dan makmur lalu diberi nama Kotagede atau yang berarti kota besar.



15 April 2015 Di Posting Oleh Admin

Tinggalan Pusaka Kotagede Yogyakarta Part 2

Sejarah Kotagede bermula dari Ki Gede Pemanahan yang membuka sebuah hutan bernama Alas Mentaok. Hutan itu diperoleh dari Raja Pajang sebagai hadiah atas keberhasilannya mengalahkan musuh kerajaan. Selanjutnya Ki Gede Pemanahan beserta keluarga dan pengikutnya membuka hutan tersebut untuk dijadikan sebuah pemukiman. Lambat laun pemukiman yang semula hanya berupa desa kecil kemudian menjelma menjadi kota kerajaan yang ramai dan makmur lalu diberi nama Kotagede atau yang berarti kota besar.



15 April 2015 Di Posting Oleh Admin

Tinggalan Pusaka Kotagede Yogyakarta Part 1

Menata Tinggalan Pusaka Kotagede

Pada masa sekarang Kotagede dikenal masyarakat sebagai daerah wisata yang eksotik dengan tinggalan budaya berupa bangunan kuno yang tersebar di dalamnya. Beragam bangunan kuno tersebut membuktikan bahwa Kotagede merupakan kota yang bernilai historis tinggi. Berdasarkan penelitian terhadap tinggalan arkeologis yang ada, diketahui bahwa Kotagede memiliki sejarah yang panjang dalam perjalanannya menjadi sebuah kota seperti saat ini.

 Sejarah Kotagede bermula dari  Ki Gede Pemanahan yang membuka sebuah hutan bernama Alas Mentaok. Hutan itu diperoleh dari Raja Pajang sebagai hadiah atas keberhasilannya mengalahkan musuh kerajaan. Selanjutnya Ki Gede Pemanahan beserta keluarga dan pengikutnya membuka hutan tersebut untuk dijadikan sebuah pemukiman. Lambat laun pemukiman yang semula hanya berupa desa kecil kemudian menjelma menjadi kota kerajaan yang ramai dan makmur lalu diberi nama Kotagede atau yang berarti kota besar.

 Kotagede tumbuh menjadi kota kerajaan yang besar seiring berdirinya kerajaan Mataram Islam yang didirikan anak Ki Gede Pemanahan, yakni Panembahan Senapati. Keagungan Kotagede yang dahulu pernah menjadi pusat kerajaan Mataram Islam dibuktikan dengan adanya tinggalan-tinggalan bangunan kuno berupa makam raja, masjid, benteng cepuri dan baluwarti serta berbagai rumah tradisional Jawa yang masih bisa kita lihat sampai sekarang.



13 April 2015 Di Posting Oleh Admin

Pesanggrahan Taman Sari. Part4

Pesanggrahan Taman Sari merupakan sebuah kompleks pertamanan yang dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwana I. Berdasarkan tinggalan bangunan-bangunan yang masih ada, ternyata pesanggrahan Taman Sari mempunyai beragam fungsi. Selain fungsi utamanya sebagai tempat rekreasi bagi keluarga raja, Taman Sari juga digunakan sebagai tempat pertahanan, tempat peribadatan (religius), kebun keraton dan sumber pengairan.



13 April 2015 Di Posting Oleh Admin

Pesanggrahan Taman Sari. Part3

Pesanggrahan Taman Sari merupakan sebuah kompleks pertamanan yang dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwana I. Berdasarkan tinggalan bangunan-bangunan yang masih ada, ternyata pesanggrahan Taman Sari mempunyai beragam fungsi. Selain fungsi utamanya sebagai tempat rekreasi bagi keluarga raja, Taman Sari juga digunakan sebagai tempat pertahanan, tempat peribadatan (religius), kebun keraton dan sumber pengairan.



13 April 2015 Di Posting Oleh Admin

Pesanggrahan Taman Sari.Part2

Pesanggrahan Taman Sari merupakan sebuah kompleks pertamanan yang dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwana I. Berdasarkan tinggalan bangunan-bangunan yang masih ada, ternyata pesanggrahan Taman Sari mempunyai beragam fungsi. Selain fungsi utamanya sebagai tempat rekreasi bagi keluarga raja, Taman Sari juga digunakan sebagai tempat pertahanan, tempat peribadatan (religius), kebun keraton dan sumber pengairan.



13 April 2015 Di Posting Oleh Admin

Pesanggrahan Taman Sari.Part1

Pesanggrahan Taman Sari

Film ini menceritakan tentang seorang gadis yang merasa penasaran setelah mendengar cerita neneknya tentang keelokan pesanggrahan Taman Sari. Untuk membuktikan cerita sang nenek, ia memutuskan untuk pergi mengunjungi pesanggrahan Taman Sari. Tidak disangka saat berkunjung ke Taman Sari ia justru bertemu dengan Pak Lukman, pegawai Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta. Kesempatan itu tidak disia-siakan olehnya untuk bertanya lebih jauh tentang sejarah pesanggrahan Taman Sari. Bahkan pertemuannya dengan Pak Lukman membuatnya mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan seorang arkeolog yang pernah melakukan pemugaran terhadap pesanggrahan Tamansari. Selain informasi tentang kesejarahan ia pun telah memperoleh pengetahuan mengenai tata cara pelestarian dan pemugaran bangunan yang kini telah menjadi cagar budaya  itu.



19 March 2015 Di Posting Oleh Admin

Purna Pugar Candi Siwa dan Candi Apit Utara.part2

Pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 terjadi gempa bumi tektonik di Yogyakarta yang berkekuatan 5,9 Skala Richter, akibat gempa tersebut bangunan-bangunan di kompleks Candi Prambanan mengalami kerusakan yang sangat parah, termasuk Candi Siwa. Untuk memperbaiki kerusakan struktural dan material maka dilakukan studi teknis dan penelitian oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta bekerja sama dengan Universitas Gajah Mada. Berbagai metode yang digunakan untuk memperbaiki kerusakan stuktural maupun material Candi Siwa telah didokumentasikan dalam wujud film yang berjudul “Purna Pugar Candi Siwa dan Candi Apit Utara”. 



19 March 2015 Di Posting Oleh Admin

Purna Pugar Candi Siwa dan Candi Apit Utara.part1

Pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 terjadi gempa bumi tektonik di Yogyakarta yang berkekuatan 5,9 Skala Richter, akibat gempa tersebut bangunan-bangunan di kompleks Candi Prambanan mengalami kerusakan yang sangat parah, termasuk Candi Siwa. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa bangunan candi mengalami kerusakan struktural dan material dengan jenis serta kondisi kerusakan yang bervariasi. Kerusakan struktural seperti kondisi bangunan candi yang miring dan runtuh, sedangkan kerusakan material ditandai dengan keadaan batu yang retak, patah, pecah, dan mengelupas.

Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta selaku instansi yang berwenang dalam pelestarian cagar budaya kemudian segera melakukan koordinasi bersama pihak terkait baik tingkat daerah, nasional, dan internasional (UNESCO) untuk menanggulangi berbagai kerusakan akibat gempa bumi tersebut. Untuk memperbaiki kerusakan struktural dan material maka dilakukan studi teknis dan penelitian oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta bekerja sama dengan Universitas Gajah Mada. Berbagai metode yang digunakan untuk memperbaiki kerusakan stuktural maupun material Candi Siwa telah didokumentasikan dalam wujud film yang berjudul “Purna Pugar Candi Siwa dan Candi Apit Utara”. Dengan hadirnya film ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi peneliti, mahasiswa, pelajar serta masyarakat umum tentang penanganan kerusakan pada Candi Siwa berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah. Selain itu, semoga film ini juga dapat menjadi acuan dalam upaya pelestarian cagar budaya selanjutnya, terutama yang terkait dengan pemugaran candi.



12 March 2015 Di Posting Oleh Admin

Candi Sambisari : Belajar Dari Fenomena Alam dan Budaya Kita. Part 5

Candi Sambisari : Belajar Dari Fenomena Alam dan Budaya Kita

Film ini memaparkan dengan jelas tentang sejarah, deskripsi bangunan dan keunikan Candi Sambisari, serta analisis mengenai proses terpendamnya Candi Sambisari akibat letusan Gunung Merapi.

 

 



12 March 2015 Di Posting Oleh Admin

Candi Sambisari: Belajar Dari Fenomena Alam dan Budaya Kita. Part 4

Candi Sambisari : Belajar Dari Fenomena Alam dan Budaya Kita

Film ini memaparkan dengan jelas tentang sejarah, deskripsi bangunan dan keunikan Candi Sambisari, serta analisis mengenai proses terpendamnya Candi Sambisari akibat letusan Gunung Merapi.

 

 



12 March 2015 Di Posting Oleh Admin

Candi Sambisari: Belajar Dari Fenomena Alam dan Budaya Kita. Part 3

Candi Sambisari : Belajar Dari Fenomena Alam dan Budaya Kita

Film ini memaparkan dengan jelas tentang sejarah, deskripsi bangunan dan keunikan Candi Sambisari, serta analisis mengenai proses terpendamnya Candi Sambisari akibat letusan Gunung Merapi.

 

 



12 March 2015 Di Posting Oleh Admin

Candi Sambisari: Belajar Dari Fenomena Alam dan Budaya Kita. Part 2

Candi Sambisari : Belajar Dari Fenomena Alam dan Budaya Kita

Film ini memaparkan dengan jelas tentang sejarah, deskripsi bangunan dan keunikan Candi Sambisari, serta analisis mengenai proses terpendamnya Candi Sambisari akibat letusan Gunung Merapi.



12 March 2015 Di Posting Oleh Admin

Candi Sambisari: Belajar Dari Fenomena Alam dan Budaya Kita. Part 1

Candi Sambisari : Belajar Dari Fenomena Alam dan Budaya Kita

Candi merupakan salah satu wujud warisan budaya peninggalan nenek moyang yang tak ternilai harganya. Saat ini kita masih bisa menikmati keindahan berbagai candi karena buah hasil kerja keras dari berbagai pihak dalam menyelamatkan warisan budaya tersebut. Candi Sambisari adalah salah satu tinggalan budaya leluhur yang berhasil diselamatkan, sehingga kondisinya masih tetap lestari sampai sekarang. Pada saat ditemukan pertama kali Candi Sambisari terkubur dalam tanah dan kondisinya dalam keadaan runtuh. Candi Sambisari ditemukan tidak sengaja oleh seorang petani yang bernama Aryo Wiyono saat mengolah lahan milik Karyo Inangun. Ketika itu cangkulnya membentur sebuah batu berukir, dan setelah diamati ternyata merupakan struktur batu candi. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Tim Fakultas Geologi UGM diketahui bahwa terkuburnya Candi Sambisari di dalam tanah akibat adanya letusan Gunung Merapi yang terjadi secara bertahap selama beberapa abad silam.

Segala upaya dikerahkan guna menyelamatkan Candi Sambisari yang masih terpendam dalam tanah, antara lain dengan melakukan ekskavasi dan pemugaran. Dengan dilakukannya ekskavasi dan pemugaran, sejarah Candi Sambisari dapat diketahui dengan melihat arsitektur dan batu isian yang digunakan. Berbagai temuan lepas seperti arca, keramik asing, kereweng, benda-benda dari perunggu serta lempengan emas bertulisan yang diperoleh dari hasil ekskavasi juga semakin menambah informasi mengenai Candi yang terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah tersebut. Salah satunya yakni prasasti berupa lempengan emas yang berbunyi Om Siwa Sthana yang berarti Hormat, pembuatan tempat (rumah) bagi Dewa Siwa. 

Satu hal yang patut kita renungkan, bahwa penyelamatan Candi Sambisari tidaklah mudah karena membutuhkan biaya dan tenaga yang tidak sedikit. Selain itu waktu yang diperlukan untuk merampungkan pemugaran candi Sambisari juga lama yaitu 20 tahun, terhitung sejak tahun 1966 sampai dengan 1987. Oleh sebab itu sudah seharusnya kita semua wajib merawat dan menjaga warisan budaya leluhur tersebut, mengingat keberadaanya yang tetap lestari sampai sekarang diperoleh dengan kerja keras dan semangat yang tinggi.



09 September 2013 Di Posting Oleh Admin

Mars Kodja ( Komunitas Onthelis Djadoel Jogjakarta )

Mars Kodja ( Komunitas Onthelis Djadoel Jogjakarta )
Diambil dari Titik Nol Kilometer Yogyakarta



09 September 2013 Di Posting Oleh Admin

Menguak Peradaban Riwayat Candi Kimpulan. Part 3

Film dokumenter yang berjudul Menguak Peradaban Riwayat Candi Kimpulan menceritakan tentang, temuan, penyebab tertimbunnya oleh tanah vulkanik, serta penyelamatan dan penanganan Candi Kimpulan di komplek kampus UII



09 September 2013 Di Posting Oleh Admin

Menguak Peradaban Riwayat Candi Kimpulan. Part 2

Film dokumenter yang berjudul Menguak Peradaban Riwayat Candi Kimpulan menceritakan tentang, temuan, penyebab tertimbunnya oleh tanah vulkanik, serta penyelamatan dan penanganan Candi Kimpulan di komplek kampus UII



09 September 2013 Di Posting Oleh Admin

Menguak Peradaban Riwayat Candi Kimpulan. Part 1

Film dokumenter yang berjudul Menguak Peradaban Riwayat Candi Kimpulan menceritakan tentang, temuan, penyebab tertimbunnya oleh tanah vulkanik, serta penyelamatan dan penanganan Candi Kimpulan di komplek kampus UII.





Back to top